Category Archives: Pendidikan

Wakil Bupati Sleman Berikan Sambutan sosialiasi potensi konflik

Masyarakat Multikultural Menjadi Penangkal Potensi Konflik Sosial

Share This:

Sleman – Sosialisasi pengkajian perubahan sosial dan potensi konflik yang terjadi di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY bekerjasama dengan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSSK) UGM di Aula Unit I Pemkab Sleman, Kamis (26/1).

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Sleman, Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes mengatakan,” Untuk menjaga jangan sampai perbedaan yang ada menjadi sumber konflik, diharapakan kita lebih menciptakan kondisi kondusif di lapangan yang membutuhkan dukungan semua pihak agar tidak terjadi pengkotak-kotakan suku, agama dan lain-lain”.

Selain itu, Sri Muslimatun berharap dengan diadakannya sosialisasi tersebut dapat menjadi sharing informasi sekaligus menjadi media dalam menyusun langkah-langkah konkrit yang dapat kita upayakan dalam menjaga ketertiban dan keamanan di Kabupaten Sleman.

Menciptakan situasi aman dan nyaman bagi masyarakat maka potensi konflik perlu dikelola secara baik dan tepat. Mengingat tingginya tingkat heterogenitas ini, maka diperlukan upaya untuk menjaga agar kondisi ini tidak dimanfaatkan oleh orang atau golongan yang berniat memecah belah persatuan dengan dasar perbedaan tersebut, tambah Sri Muslimatun.

Habib S.Sos., M.Si., dari PSKK UGM yang menjadi narasumber pada acara tersebut menyampaikan bahwa komposisi masyarakat DIY yang multikultur bisa menjadi sebuah kekuatan, namun apabila tidak ditopang oleh kekuatan modal sosial (social trust, social inclusion) yang memadai bisa menimbulkan konflik.

Penelitian perubahan sosial dan potensi konflik sendiri melibatkan responden sebanyak 8000 orang dari unsur tokoh pemuda, tokoh perempuan, BPD, LKMD, Polsek, dan Koramil.

Dari hasil penelitian yang didapatkan Habib menjelaskan bahwa disebagian besar kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman, Indeks Potensi Konflik akibat tindakan premanisme meningkat, kecuali di Kecamatan Moyudan, Berbah, Kalasan, Cangkringan, dan Prambanan yang mengalami penurunan. Sedangkan Kecamatan Mlati, Depok, dan Gamping merupakan 3 kecamatan dengan potensi konflik premanisme tertinggi di Kabupaten Sleman.

Untuk konflik ekonomi Kecamatan Mlati, Kalasan, dan Gamping merupakan 3 kecamatan dengan nilai indeks potensi konflik Ekonomi tertinggi di Kabupaten Sleman. Sedangkan Kecamatan Minggir, Prambanan, dan Ngemplak merupakan 3 kecamatan dengan indeks potensi konflik ekonomi terendah di Kota Yogyakarta.

“Sedangkan untuk Indeks Potensi Konflik dimensi politik ditahun 2016 mengalami peningkatan hampir di semua kecamatan kecuali di Kecamatan Minggir yang mengalami penurunan. Indeks Potensi Konflik tertinggi ada di Kecamatan Ngemplak, Kalasan, dan Prambanan dan Indeks Potensi Konflik terendah ada di Kecamatan Minggir,Cangkringan, dan Seyegan”, kata Habib.

(Sumber: http://mediacenter.slemankab.go.id/)

 

festival berlian mororejo

Festival Berlian di Sleman Tingkatkan Perlindungan Anak

Share This:

SLEMAN, NETRALNEWS.COM – Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, dan Perlindungan Perempuan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar Festival Berlian atau Bersama Lindungi Anak, di Desa Mororejo, Kecamatan Tempel, Minggu (20/11/2016).

“Kegiatan yang bertajuk ‘Mororejo Colourflash 2016’ ini sebagai ajang kampanye bersama di desa percontohan pengembangan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM),” kata Ketua Pelaksana Eko Yulianto.

Menurut dia, meningkatnya kasus kekerasan pada anak dari waktu ke waktu salah satunya timbul karena peran aktif masyarakat dalam perlindungan anak masih kurang.

” Kampanye Berlian PATBM di Mororejo bertujuan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan perlindungan anak,” katanya.

Ia mengatakan, peran masyarakat dalam perlindungan anak dapat dilakukan diantaranya melalui sosialisasi perlindungan anak pada masyarakat, memberikan masukan pada perumusan kebijakan yang terkait perlindungan anak.

“Selain itu juga menyediakan sarana prasarana dan ruang serta suasana kondusif untuk tumbuh kembang anak,” katanya.

Eko mengatakan, berbagai kegiatan telah dilakukan aktivis PATBM Desa Mororejo, yaitu mengikuti pelatihan yang diselenggarakan PPPA RI, menyusun peta potensi dan masalah anak, menyusun data pilah anak, menyusun rencana kerja PATBM, dan melaksanakan sosialisasi PATBM di seluruh padukuhan, kelompok PKK, dan sekolah di Desa Mororejo.

“Tema Kampanye Berlian yang kami laksanakan adalah melalui PATBM kita wujudkan Desa Mororejo ‘Sigrak’ atau Siap Menjadi Penggerak Perlindungan Anak,” katanya.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun yang hadir dalam kampanye tersebut menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman merupakan wilayah dengan tingkat pertumbuhan migrasi yang tinggi serta merupakan kawasan yang strategis dalam dalam sektor pendidikan dan ekonomi, sehingga dinamika dan perubahan-perubahan sosialnya menjadi sangat tinggi.

“Di sisi lain kondisi tersebut juga menimbulkan tekanan dan permasalahan baru yang lazimnya terjadi pada kota-kota besar lainnya di Indonesia. Anak berusia 0-18 tahun rentan memiliki masalah sosial dan menghadapi risiko kekerasan baik di lingkungan rumah, di lingkungan sekolah, maupun ditempat-tempat umum,” katanya.

Menurut dia, risiko-risiko yang sangat mungkin terjadi pada anak antara lain kekerasan dalam pola asuh, tontonan komersial yang kurang mendidik, kasus kekerasan fisik dan psikis pada anak secara, trafficking, eksploitasi anak, pelecehan seksual, Anak Bermasalah dengan Hukum, hingga kasus anak terjerat narkoba.

“Kami berharap agar agar Desa Ramah Anak sebagai bagian dari Kabupaten Layak Anak tidak hanya sekadar menjadi label, dan jangan sampai ada kesenjangan antara kebijakan dengan realita yang ada di lapangan. Untuk itu saya mengharapkan kita semua baik warga masyarakat, aktivis PATBM, seluruh stakeholder dapat bersinergi secara nyata untuk mewujudkan lingkungan dimanapun anak-anak berada yang ramah bagi merekan” katanya.

Acara yang diikuti 1.000 orang yang terdiri atas anak-anak, warga masyarakat, dan stakeholder tersebut dilakukan deklarasi akhiri kekerasan pada anak, flashmob, dan pengobatan gratis.

(Sumber: www.netralnews.com)

sri-muslimatun-sleman

Handphone Anak Cukup untuk Telepon dan SMS

Share This:

SLEMAN – Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menaruh perhatian serius pada kasus kekerasan yang menimpa maupun dilakukan anak-anak. Menurutnya, hal itu bisa berawal dari pengaruh negatif aplikasi dan situs internet yang sangat mudah diakses melalui telepon seluler.

“Handphone ibarat dua mata uang. Di satu sisi bermanfaat. Tapi jika pemanfaatannya keliru bisa berimbas pada penurunan akhlak bagi yang menggunakannya,” tuturnya.

Karena itu pula Muslimatun sangat mendukung kebijakan yang melarang siswa membawa gajet ke sekolah. Karena jika tak dikendalikan bisa mengganggu konsentrasi belajar. Kendati demikian, Muslimatun tak menampik handphone merupakan salah satu kebutuhan vital sebagai sarana komunikasi antara anak dan orang tua.

Untuk itu, Muslimatun menyarankan para orang tua yang membutuhkan komunikasi lebih kepada anak mereka agar cukup membekali dengan telepon genggam sederhana. Yang cukup hanya untuk menelepon dan berkirim pesan singkat SMS. Itu demi mencegah pengaruh negatif, khususnya aplikasi dan situs orang dewasa. Tanpa benteng iman yang kuat, anak-anak akan mudah terpengaruh hal-hal yang seharusnya belum  pantas mereka terima.

Ditegaskan, penggunaan gajet pada anak-anak harus dengan pengawasan para orang tua ketika berada di rumah. Sedangkan di sekolah menjadi tugas guru untuk mengontrol.

“Gajet bisa menjadi sumber kekerasan yang halus bagi anak. Membuat kecerdasan emosional anak tidak seimbang. Sering mereka mendapat informasi tapi tidak bisa memfilternya,” ingatnya

(Sumber: www.radarjogja.co.id)