muslimatun-wabub-sleman

Pentingnya Aturan Etika Merokok di Tempat Umum

Share This:

Rokok adalah kenikmatan yang membahayakan. Di Indonesia, merokok sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari sebagian besar masyarakat karena berbagai faktor dan alasan yang melatarinya. Kendati memiliki dampak negatif serta kurang baik bagi kesehatan, nyatanya rokok tetap dikonsumsi oleh masyarakat.

Merokok sah-saha saja. Itu hak setiap individu. Hanya saja, perokok tidak boleh menutup mata dari orang lain yang tidak merokok. Maksudnya, ada sebagian masyarakat yang tidak mengkonsumsi barang yang mengandung zat nikotin tersebut. Sebagaimana dipahami dan diketahui bersama, nikotin adalah zat adiktif yang bisa mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen dan dapat memicu kanker paru-paru yang bisa menyebabkan kematian. Sebagai catatan, kanker telah terkenal sebagai penyebab kematian kelas wahid pada manusia.

Terlepas dari itu, menghentikan kebiasaan merokok tentu bukan perkara mustahil. Asal ada kemauan, mengkonsumsi rokok bisa dihentikan. Tanpa bermaksud memaksa, kesadaran tentang bahaya rokok dan merokok memang sudah seyogyanya dipahami dan dimengerti oleh masyarakat luas. Apa pasal? Selain berbahaya bagi kesehatan diri si perokok, rokok juga dapat merugikan orang lain, termasuk asap yang dihasilkan pada saat merokok.

Saya sendiri mempunyai mimpi jangka panjang Sleman bebas dari asap rokok. Menurut saya, perlu adanya peraturan daerah tentang etika merokok, terutama di tempat-tempat umum. Harapan ini tentu bukan sesuatu yang berlebihan jika kita sadar tentang dampak asap rokok bagi mereka yang tidak merokok.

Asap rokok tidak cukup hanya merugikan si perokok tetapi juga bagi orang lain. Asap rokok yang dikeluarkan memberikan efek buruk bagi kesehatan orang lain yang mengirupnya (perokok pasif). Hal ini dikarenakan asap rokok memiliki kandungan bahan kimia di antaranya karbonmonoksida, nikotin dan tar, yang tidak saja bagi si perokok sendiri tetapi juga orang lain yang menghirup asapnya.

Saya meyakini ada banyak orang yang menyadari tentang bahaya merokok, baik bagi perokok sendiri maupun perokok pasif. Hanya saja, tak sedikit pula orang yang tampak tak ingin mengerti alih-alih sadar. Mereka bahkan sering berujar merokok adalah bagian dari ekspresi kebebasan individu. Tentu saya tidak bermaksud melarang merokok kalau bicara pada konteks kebebasan. Kesehatan adalah satu-satunya alasan mengapa saya begitu kritis menyikapi rokok dan perokok, terutama merokok di tempat-tempat umum.

Saya juga menyadari jika rokok dilarang niscaya tak sedikit orang yang akan kehilangan penghasilan sehari-hari. Namun, perhatian saya lebih pada etika merokoknya terutama di tempat-tempat umum seperti disebutkan sebelumnya. Berkurangnya asap rokok di depan umum akan mengurangi dampak asap rokok bagi yang tidak merokok. Kalau semua perokok merokok pada tempatnya tentu akan mengurangi asap rokok berkeliaran di udara bebas. Inilah pokok persoalan yang menjadi fokus perhatian saya mengenai rokok.

Tak hanya di tempat-tempat umum, merokok di rumah pun jika tidak berhati-hati, bisa-bisa anak dan istrinya menjadi perokok pasif berat. Sebagai orang kesehatan, tentu saya paham betul dampak orang merokok atau perokok pasif sehingga harapan besar saya para perokok bisa merokok pada tempatnya agar tidak merugikan orang lain.

Berlatar kesadaran dan fakta rokok berbahaya bagi kesehatan, baik perokok aktif maupun perokok pasif, maka saya sangat mendukung Sleman memiliki perda kawasan tanpa rokok (KTR). Peraturan tersebut menurut saya bertujuan baik dan mulia serta tak ada ruginya, terutama bagi kesehatan masyarakat. Sesunggunya Raperda KTR Sleman sudah mulai dibahas dari tahun 2011 karena belum adanya persamaan persepsi sehingga sampai sekarang belum disahkan. Namun, harapan itu semakin dekat, insya Allah 2016 ini dapat disahkan oleh DPRD Selman. Target Pemda Sleman begitu juga harapan DPRD Sleman Perda KTR sudah bisa direalisasikan pada 2017 nanti.

Jika mimpi besar saya Sleman bebas dari asap rokok dapat terwujud nyata, niscaya salah satu cita-cita kita di bidang kesehatan benar-benar terealisasi. Namun, tentu saja saya menyadari tanpa dukungan dan sokongan dari masyarakat cita-cita tersebut hanya akan menjadi mimpi yang berkepanjangan belaka. Karenanya, mimpi saya ini butuh dukungan moril dibarengi kehendak besar dari seluruh warga Sleman khususnya serta Yogyakarta pada umumnya. Semoga.

(Sumber: www.bersatunews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>